Bupati Biak Numfor Markus O. Mansnembra, Ketua DPDK Biak Biak Numfor Daniel Rumanasem, Kapolres dan undangan lainnya bersama peserta Rakorda se-Provinsi Papua Tahun 2026 saat foto bersama setelah acara pembukaan, di Swiss-Belhote, Rabu (03/06/2026). (Foto : Yuni B/pedomanpapua.com)
PEDOMAN PAPUA, Biak – Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Se-Provinsi Papua Tahun 2026 yang dilaksanakan di Biak selama dua hari, di Biak ( 3 – 4 Juni 2026), di Swiss-Belhotel berlangsung sukses.
Adalah Bupati Biak Numfor Markus Octovianus Mansnembra mewakili Gubernur Papua, Komjen Pol (Purn) Matius D. Fakhiri membuka kegiatan yang diikuti oleh peserta dari 1 kota dan 8 kabupaten di wilayah Provinsi Papua. Sementara penutupan dilakukan oleh Kepala BPBD Kabupaten Biak Numfor, Lot L. Yensenem, S.Sos.,M.Si mewakili Gubernur Papua.
“Penanggulangan bencana di Papua harus mengalami transformasi paradigma, dari yang semula bersifat responsif saat kejadian, menjadi upaya yang terintegrasi dan berkelanjutan mencakup pencegahan, mitigasi, serta kesiapsiagaan, hal ini penting karena kondisi geografis Papua yang luas dan memiliki kerentanan terhadap bencana hidrometeorologi maupun geologi.,” kata Gubernur dalam sambutan tertulisnya.
Dikatakan, urusan kebencanaan adalah tanggung jawab bersama. Diperlukan kolaborasi erat dalam semangat pentahelix yang melibatkan pemerintah, TNI/Polri, dunia usaha, akademisi, media massa, hingga masyarakat adat.
“Penguatan ketangguhan bencana merupakan pondasi utama untuk mewujudkan visi “Papua Cerah”,” pungkasnya.
Sekedar diketahui, Rakorda ini mengusung tema “Bersatu Dalam Siaga Tangguh Menghadapi Bencana”. Forum strategis ini diikuti oleh sekitar 200 peserta, termasuk yang hadir secara daring sebagai peserta.
Selain itu, Rakorda ini menghadirkan narasumber dari BNPB Republik Indonesia, Dr. Sesa Wiguna dan Bintang Bhagaskara, serta Kepala Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial Jayapura, John H. Mampioper.
“Melalui forum ini, diharapkan lahir rekomendasi konkret dan penyamaan persepsi antar-lembaga untuk membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih adaptif dan responsif terhadap kondisi daerah masing-masing,” tandas Lot Yensenem menambahkan. (yun).
